May 07

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam jenjang perguruan tinggi, seorang mahasiswa diharapkan tidak hanya mengikuti perkuliahan dengan baik, namun lebih dari itu juga dituntut untuk mendalami dan menguasai disiplin ilmu yang dipelajarinya sehingga nantinya akan menghasilkan sarjana-sarjana yang berkualitas dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata dan bermanfaat bagi masyarakat.

Disiplin ilmu teknik merupakan disiplin ilmu yang eksak dan banyak menerapkan ilmu-ilmu murni yang diterapkan kepada masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bidang-bidang keteknikan mutlak untuk dikuasai mahasiswa teknik, tidak hanya dari segi teori juga dari segi prakteknya. Apalagi dalam menghadapi era globalisasi saat ini, serta pasar bebas yang akan segera kita masuki, lebih menuntut penguasaan dan penerapannya dalam menghadapi masalah-masalah yang kompleks.

Ternyata dalam aplikasi ilmu tersebut, tgas yang diberikan kepada mahasiswa tidak akan dikuasai sempurna tanpa adanya praktek-praktek yang merupakan salah satu sarana yang baik untuk menguasai ilmu sekaligus mempraktekannya. Demikian juga dengan praktikum Fisika Dasar I ini.

Fisika dalam bidang teknik khususnya Teknik Sipil merupakan hal yang sangat penting dan benar-benar harus dikuasai secara teori dan praktek. Dengan latar belakang itulah, maka kami mahasiswa teknik sipil semester I diberi tugas praktikum mata kuliah Fisika Dasar yang dilaksanakan di Laboratorium Pusat dibawah bimbingan dosen dan team asisten pembantu dosen.

1.2 Tujuan

1. Memperdalam wawasan pengetahuan tentang mata kuliah Fisika Dasar I.

2. Menguji dan membandingkan teori-teori dengan praktek di Laboratorium.

3. Memberikan latihan praktis menggunakan alat-alat laboratorium.

4. Mengembangkan daya nalar mahasiswa untuk menganalisa data dan membuktikan kebenaran ilmiah.

5. Menunjang pemahaman materi kuliah yang disampaikan dosen.

1.3 Jenis Praktikum

Adapun jenis praktikum yang kami lakukan adalah :

  1. Pengukuran Dasar

Tujuan khusus praktikum ini adalah :

a. Mempelajari penggunaan alat-alat ukur dasar.

b. Menuliskan dengan benar bilangan-bilangan berarti hasil pengukuran atau perhitungan.

c. Menghitung besaran lain berdasarkan yang terukur langsung.

2. Kalorimeter

Tujuan khusus praktikum ini adalah :

a. Menentukan panas jenis gelas dengan menggunakan kalorimeter

b. Menentukan kapasitas panas calorimeter

3. Pesawat Atwood

Tujuan khusus praktikum ini adalah :

    1. Mempelajari penggunaan hokum II Newton
    2. Mempelajari gerak lurus beraturan dan berubah beraturan
    3. Menentukan momen inersia roda atau katrol

4. Modulus Young

Tujuan khusus dari praktikum ini adalah menentukan modulus young suatu bahan

Setelah dilaksanakan praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :

  1. Memahami konsep dan rumus fisika.
  2. Menggunakan konsep dan rumus itu untuk memecahhkan masalah-masalah keteknikan.
  3. Melakukan pengujian ilmiah di Laboratorium.
  4. Terampil dalam menggunakan alat-alat laboratorium.
  5. Menerangkan konsep-konsep ilmiah dalam bidang fisika yang telah diuji dengan percobaan di laboratorium.

BAB II

PENGUKURAN DASAR

2.1 MAKSUD DAN TUJUAN

  1. Dapat melakukan pengukuran terhadap besaran dasar : panjang, massa, waktu.
  2. Dapat melakukan pengukuran terhadap besaran turunan : luas, volume, massa jenis.
  3. Mempelajari alat ukur-ukur dasar.
  4. Menuliskan dengan benar bilangan berarti hasil pengukuran atau perhitungan.

5. Menghitung besaran lain berdasarkan yang terukur langsung.

2.2 DASAR TEORI

Terdapat berbagai macam alat ukur untuk menentukan ukuran panjang antara lain mistar, jangka sorong, micro meter sekrup, dll. Alat-alat tersebut disebut alat ukur langsung karena obyek yang diukur akan dibandingkan dengan skala pada alat ukurnya secara langsung.

Perlu diingat definisi konsep yang berkaitan dengan pengukuran antara lain :

Sistem satuan : ………?

Batas ukur : ………?

Ketelitian : ………?

Alat ukur massa yang umum adalah neraca, sedangkan alat ukur waktu adalah arloji atau stopwatch.

Besaran ukuran dapat ditentukan dengan mengukur besaran dasar tersebut, misalnya ukuran luas kertas ditentukan oleh panjang dan lebar kertas. Ukuran volume balok dinyatakan dengan panjang, lebar dan tebalnya. Di sini perlu diingat konsep yang berkaitan dengan menyatakan hasil pengukurannya, misal : Angka penting, ketidakpastian hasil/ralat, dll.

Suatu kasus : sebuah benda berbentuk sembarang. Bagaimana menentukan volumenya ? Misalkan mempunyai volume V dan massa m, maka massa jenis dapat dinyatakan :

……… (1), m = massa benda, V=Volume benda, maka massa jenis benda dapat dinyatakan dengan persamaan (1).

2.2.1 Pengenalan Alat

a. Jangka Sorong

Mempumyai dua rahang dan satu penduga. Rahang dalam digunakan untuk mengukur diameter bagian dalam. Rahang luar digunakan untuk mengukur diameter bagian luar, sedangkan penduga digunakan untuk mengukur kedalaman. Roda penggerak digunakan untuk menggeser-geser rahang agar dapat mendapaktkan hasil pengukuran yang tepat. Pengunci rahang digunakan untuk mengunci setelah besaran yang diukur dapat terukur supaya tidak bergeser-geser.

b. Mikrometer sekrup

Hanya dapat digunakan untuk mengukur bagian luar saja. Cara menggunakannya adalah putarkan bagian pemutus halus. Jika sudah pas, ditandai dengan bunyi “klik”, kunci dengan menggunakan pengait. Skala besarnya adalah horizontal, sedangkan skala penghalusnya bagian vertikal terdiri dari 50 skala horizontal sebesar 0,5 mm.

c.Neraca

Neraca menggunakan prinsip keseimbangan karena bidang kerjanya harus mendatar. Ketelitiannya adalah 0,1gr. Cara pengukuran massa benda dengan neraca adalah:

1. Letakkan benda pada cawan penimbang.

2. Geser beban-beban yang ada pada lengan-lengannya hingga terjadi keseimbangan terhadap angka nol pada ujung paling kanan.

3. Baca berapa gram massa benda tersebut.

2.3 ALAT DAN BAHAN

2.3.1 Alat-alat

a. Jangka sorong

b. Mikrometer sekrup

c. Neraca / Timbangan

2.3.2 Bahan

a. Kelereng (bola pejal)

b. Silinder

c. Anular silinder

2.4 GAMBAR ALAT

Gambar 2.1 Jangka sorong

Gamabar 2.2 Mikrometer sekrup

Gambar 2.3 Neraca / Timbangan

2.5 PROSEDUR PERCOBAAN

1. Menyediakan Jangka sorong, mikrometer sekrup, dan neraca timbang.

2. Menyediakan benda kuningan / bahan dengan bentuk yang berbeda-beda.

3. Mengukur benda menggunakan jangka sorong sebanyak 5 kali.

4. Mengukur diameter benda dengan menggunakan mikrometer sekrup sebanyak 5 kali.

5. Mengukur massa benda dengan menggunakan neraca sebanyak 5 kali.

6. Menghitung volume dan massa jenis benda dengan menggunakan hasil pengukuran yang diperoleh.

7. Mencatat data hasil yang diperoleh.

8. Menganalisa hasil.

9. Menarik kesimpulan.

2.6 ALUR KERJA

Mulai

Menyiapkan peralatan

Menyiapkan bahan-bahan

Mengukur dimensi benda

Mencatat hasil pengukuran

Menganalisa data

Menarik kesimpulan

Selesai

Diagram 2.1 Alur kerja pengukuran

2.7 DATA PERCOBAAN

Keterangan

Percobaan Ke-

Rata-rata

1

2

3

4

5

D(cm)

22,2

22,22

22,23

22,205

22,26

22,223

M(gram)

45

44,6

44,8

44,75

44,9

44,81

Tabel 2.1 Kelereng ( Bola Pejal)

Tabel 2.2 Silinder Pejal

Keterangan

Percobaan Ke-

Rata – rata

1

2

3

4

5

L(cm)

4,41

4,45

4,44

4,48

4,43

4,442

D(cm)

1,0975

1,0925

1,0925

1,0920

1,0930

1,0935

M(gram)

79,6

79,5

79,55

79,65

79,6

79,58

Tabel 2.3 Anular Silinder

Keterangan

Percobaan Ke-

Rata – rata

1

2

3

4

5

L(cm)

4,475

4,480

4,470

4,475

4,485

4,477

D1(cm) (luar)

1,6420

1,6415

1,6430

1,6420

1,6430

1,6423

D2(cm) (dalam)

1,0475

1,025

1,045

1,035

1,03

1,0365

M(gram)

57

56,9

56,75

56,8

56,85

56,86

2.8 ANALISIS DATA

Tabel 2.4 Hasil Analisis Silinder Pejal

Perc. 1

Perc. 2

Perc. 3

Perc. 4

Perc. 5

Rata-rata

Satuan

L

4,41

4,45

4,44

4,48

4,43

4,442

cm

D

1,0975

1,0925

1,0925

1,0920

1,0930

1,0935

cm

V

4,170

4,169

4,160

4,194

4,154

4,170

cm3

DV

0

0,003

0,01

0,024

0,016

0,0106

cm3

m

79,6

79,5

79,55

79,65

79,6

79,58

gr

ρ

19,090

19,068

19,122

18,993

19,160

19,086

gr/cm3

0,004

0,018

0,036

0,093

0,074

0,045

gr/cm3

Tabel 2.5 Hasil Analisis Kelereng

Perc. 1

Perc. 2

Perc. 3

Perc. 4

Perc. 5

Rata-rata

Satuan

D

22,2

22,22

22,23

22,205

22,26

22,223

cm

V

11,611

11,621

11,626

11,613

11,642

11,623

cm3

DV

0,012

0,002

0,003

0,010

0,019

0,009

cm3

m

45

44,6

44,8

44,75

44,9

44,81

gr

ρ

3,876

3,838

3,853

3,853

3,857

3,855

gr/cm3

0,021

0,017

0,002

0,002

0,002

0,044

gr/cm3

Tabel 2.6 Hasil Analisis Anular Silinder

Perc. 1

Perc. 2

Perc. 3

Perc. 4

Perc. 5

Rata-rata

Satuan

L

4,475

4,480

4,470

4,475

4,485

4,477

cm

D1

1,6420

1,6415

1,6430

1,6420

1,6430

1,6423

cm

D2

1,0475

1,025

1,045

1,035

1,03

1,0365

cm

V

5,617

5,781

5,640

5,708

5,769

5,703

cm3

DV

0,086

0,078

0,063

0,005

0,066

0,06

cm3

m

57

56,9

56,75

56,8

56,85

56,86

gr

ρ

10,148

9,842

10,061

9,951

9,855

9,971

gr/cm3

Dρ

0,177

0,129

0,090

0,020

0,116

0,106

gr/cm3

Tabel 2.7 Analisa Volume

Silinder Pejal

Anular Silinder

Kelereng

4,170

5,703

11,623

=

0,053

0,3

0,027

4,170±0,053

5,703±0,3

11,623±0,027

Ralat relative

=

1,27%

5,26%

0,23%

Ketelitian

(100-a)%

98,73%

94,74%

99,77%

Tabel 2.8 Analisa Rapat Massa Jenis

Silinder Pejal

Anular Silinder

Kelereng

(gr/cm3)

19,086

9,971

3,855

(gr/cm3)

0,063

0,132

0,0136

(gr/cm3)

19,086±0,063

9,971±0,132

3,855±0,0136

Ralat relative

0,33%

1.32%

0,35%

Ketelitian(100-A)%

99,67%

98,68%

99,65%

Keterangan :

* D = Diameter (cm)

* V = Volume (cm3)

* m = massa (gram)

* = massa jenis

* L = Tinggi ( cm)

* D1 = Diameter luar (cm)

* D2 = Diameter dalam (cm)

2.9 PEMBAHASAN

2.9.1 Hasil analisis data

1. Silinder Pejal

V = ¼.π.d2.L

= 4,170 cm3

ρ = m/v

=19,086 gr/cm3

2. Anular Silinder

V = ¼.π.L.(d12-d22)

= 5,703 cm3

ρ = m/v

= 9,971 gr/cm3

3. Kelereng

V = 1/6.π.d3

= 11,623 cm3

ρ =m/v

= 3,855 gr/ cm3

2.9.2 Hasil pengukuran akhir

V Silinder pejal = 4,170±0,053 cm3

V Anular Silinder = 5,703±0,3 cm3

V Kelereng = 11,623±0,027 cm3

2.10 APLIKASI DALAM BIDANG TEKNIK SIPIL

a. Pengukuran kayu

b. Pengukuran kedalaman bendungan

c. Pengukuran besi kolom

Kegunaan dari jangka sorong:

- Mengukur diameter suatu benda.

- Mengukur tebal suatu batang.

- Menghitung panjang suatu batang .

Kegunaan dari micrometer sekrup:

- Mengukur ketebalan suatu benda.

- Mengukur diameter bola.

Kegunaan dari neraca teknis

- Menghitung massa dari suatu benda.

2.11 KESIMPULAN

Dari hasil praktikum dan pengolahan data maka dari praktikum ini dapat ditarik kesimpulan :

1. Dalam melakukan perhitungan terdapat perbedaan-perbedaan perhitungan yang faktor-faktornya antara lain :

a. Kesalahan dalam diri praktikan

- Kurang teliti dalam membaca skala

- Kurang teliti dalam membaca contoh

- Kurang pahamnya praktikan akan petunjuk praktikan (cara kerja dan cara penggunaan alat)

b. Kesalahan alat dan bahan

- Alat atau bahan dalam kondisi yang kurang baiksetelah digunakan berulang-ulang dalam praktikum

2. Dalam melakukan praktikum kelompok praktikan tidak melakukan perhitungan volume secara biasa sehingga tidak dapat melakukan perbandingan dengan perhitungan volume yang dihitung dengan menggunakan rumus.

3. Dari hasil perhitungan dan pembahasan diatas dapat disimpulkan besar volume dengan cara pengukuran dan rapat massa keempat benda yang diamati:

Tabel 2.9 Volume dan Rapat Massa

Volume Pengukuran

Rapat Massa

Silinder pejal

4,170 cm3

19,086 gr/cm3

Anular Silinder

5,703 cm3

9,971 gr/cm3

Bola Bening

11,623 cm3

3,855 gr/ cm3

BAB III

Kalorimeter

3.1 Maksud dan Tujuan

1. Dapat menentukan energi listrik yang dilepaskan dalam kalorimeter.

2. Dapat menentukan energi kalor yang diterima kalorimeter.

3. Dapat menentukan kalor jenis suatu zat.

4. Dapat menentukan nilai kesetaraan kalor listrik.

5. Dapat menentukan kapasitas kalor dari calorimeter

3.2 Dasar Teori

Hukum kekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat dimusnahkan dan diciptakan melainkan hanya dapat diubah dari suatu bentuk energi kebentuk energi yang lain. Misalnya pada peristiwa gesekan energi mekanik berubah menjadi panas. Pada mesin uap panas diubah menjadi energi mekanik. Demikian pula energi listrik dapat diubah menjadi panas atau sebaliknya. Sehingga dikenal adanya kesetaraan antara panas dengan energi mekanik/listrik, secara kuantitatif hal ini dinyatakan dengan angka kesetaraan panas-energi listrik/mekanik. Kesetaraan panas-energi mekanik pertama kali diukur oleh Joule dengan mengambil energi mekanik benda jatuh untuk mengaduk air dalam kalorimeter sehingga air menjadi panas. Energi listrik dapat diubah menjadi panas dengan cara mengalirkan arus listrik pada suatu kawat tahanan yang tercelup dalam air yang berada dalam kalorimeter.

Energi listrik yang hilang dalam kawat tahanan besarnya adalah:

Keterangan:

W = energi listrik (joule)

v = tegangan listrik (volt)

i = arus listrik (ampere)

t = lama aliran listrik (sekon)

Kalor adalah suatu bentuk energi yang berpindah dari benda yang bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu lebih rendah ketika benda itu saling berhubungan. Benda yang menerima kalor, suhunya akan naik sedangkan benda yang melepas kalor, suhunya akan turun.

Besarnya kalor yang diserap atau dilepas oleh suatu benda berbanding lurus dengan:

1. Massa benda

2. Kalor jenis benda

3. Perubahan suhu

Jadi besarnya kalor dapat dirumuskan:

Dalam satuan SI, kalor adalah joule. Satuan kalor yang lain adalah kalori. Kesetaraan joule dan kalori adalah sebagai berikut:

1 joule = 0,24 kalori

1 kalori = 4,184 joule

Satu kalori adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan suhu 1oC air murni yang massanya 1 gram.

Kalor jenis (c) adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan 1 kg zat sebesar 1K atau 1oC.

Keterangan:

Q = jumlah kalor (kalori)

m = massa zat (gram)

c = kalor jenis zat (kal/gr oC)

t = perubahan suhu suhu (oC)

Hukum kekalan energi kalor (azas black) menyatakan bahwa “Pada pencampuran dua zat, banyaknya kalor yang dilepas zat bersuhu tinggi sama dengan banyaknya kalor yang diterima zat bersuhu rendah.”

Atau dapat dirumuskan:

Maka energi listrik yang dilepaskan akan diterima oleh air dalam kalorimeter dan kalorimeter itu sendiri, sehingga akan terjadi perubahan panas pada air dan kalorimeter.

Adapun besarnya nilai kesetaraan kalor listrik dapat dinyatakan dengan persamaan:

Keterangan:

γ = kesetaraan kalor

ma = massa air dalam calorimeter (gram)

ca = kalor jenis air (kal/gr oC)

mk = massa calorimeter (gram)

ck = kalor jenis calorimeter (kal/gr oC)

ta = suhu akhir (oC)

t = suhu awal (oC)

Kapasitas Kalor (C) adalah yaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikan suhu suatu benda sebesar 1K atau 1 oC. Dirumuskan dengan:

Atau

Q = jumlah kalor (kalori)

m = massa zat (gram)

c = kalor jenis zat (kal/gr oC)

t = perubahan suhu suhu (oC)

C = kapasitas kalor (kal/oC)

3.3 Alat dan Bahan

a. Kalorimeter

b. Voltmeter

c. Ampermeter

d. Neraca

e. Catu daya

f. Thermometer

g. Kabel Penghubung

h. Stopwatch

3.4 Gambar Alat dan Bahan

Thermometer Stopwatch Neraca

Catu Daya Kabel

pkalorimeter

Kalorimeter Voltmeter Ampermeter

Gambar 3.1 Alat dan Bahan Percobaan

3.5 Prosedur Percobaan

Set percobaan

1. Memasang rangkaian listrik seperti gambar di atas.

2. Menghubungkan dengan sumber tegangan, mengatur arusnya kira-kira 2 Ampere, kemudian mematikan lagi saklarnya.

3. Menimbang calorimeter kosong (bejana dalam) dan pengaduk.

4. Mencatat massa calorimeter kosong.

5. Mangisi calorimeter dengan air secukupnya ( kumparan tercelup ) dan menimbang kembali sehingga massa airnya diketahui.

6. Mencatat massa air dalam calorimeter.

7. Memasang calorimeter yang sudah berisi air.Mengukur suhu air dan calorimeter danmencatat hasil pengukuran.

8. Menyalakan catu daya dan menghidupkan stopwatch.Mencatat penunjuk tegangan dan arus setiap 2 menit danmengaduk terus air dalam calorimeter dengan pengaduk.

9. Mencatat suhu air setiap 2 menit selama 6 menit.

10. Mengulangi percobaan di atas sekali lagi dengam massa air berbeda.

3.6 Alur Percobaan

Diagram 3.1 Alur kerja praktikum

3.7 Data Percobaan

Tabel 3.1 Percobaan 1

No

v (volt)

i(ampere)

t(sekon)

mk(gram)

ma(gram)

T (oC)

T akhir (oC)

1.

14

0,52

120

145

67,6

28

30

2.

14

0,52

240

145

67,6

28

32

3.

14

0,52

360

145

67,6

28

34

Tabel 3.2 Percobaan 2

No

v (volt)

i(ampere)

t(sekon)

mk(gram)

ma(gram)

T (oC)

T akhir (oC)

1.

14

0,55

120

145

123

28

29,8

2.

14

0,55

240

145

123

28

31,3

3.

14

0,55

360

145

123

28

33

Tabel 3.3 Percobaan Tambahan

No

Massa air dingin (gram)

Massa air panas(gram)

Suhu air dingin

Suhu air panas

Suhu campuran

1.

105

98,5

28

60

43

2.

115

108

28

62

44

3.

129

122.2

28

66

46

3.8 Analisis Data

Tabel 3.4 perhitungan energi,kalor jenis,dan kapasitas kalor percobaan 1

No

Keterangan

1

2

3

v (volt)

14

14

14

i(ampere)

0,52

0,52

0,52

t(sekon)

120

240

360

mk(gram)

145

145

145

ma(gram)

67,6

67,6

67,6

T (oC)

28

28

28

T akhir (oC)

30

32

34

∆T ( Takhir – T )

2

4

6

(joule)

873,6

1747,2

2620,8

kalori

209,664

419,328

628,992

(kal/gr oC)

1,55

1,55

1,55

(kal/oC)

104,832

104,832

104,832

Tabel 3.5 perhitungan energi,kalor jenis,dan kapasitas kalor percobaan 2

No

Keterangan

1

2

3

v (volt)

14

14

14

i(ampere)

0,55

0,55

0,55

t(sekon)

120

240

360

mk(gram)

145

145

145

ma(gram)

123

123

123

T (oC)

28

28

28

T akhir (oC)

29,8

31,3

33

∆T ( Takhir – T )

1,8

3,3

5

(joule)

924

1848

2772

kalori

221,76

443,52

665,28

Tabel 3.6 menentukan kalor jenis kalorimeter

No

Massa air dingin (gram)

Massa air panas (gram)

Suhu air dingin

Suhu air panas

Suhu campuran

∆T1

∆T2

1

105

98,5

28

60

43

17

15

2

115

108

28

62

44

18

16

3

129

122.2

28

66

46

20

18

Keterangan :

∆T1 = Tap -Tcamp

∆T2 =Tcamp -Tair

Cair = 4,18 x 103joule/kgK

= 4,18 x 103 joule/kgK x 0,24 kalori

= 1,0032 x 103kal/kg oC

= 1,0032 kalori/gr oC

Percobaan 1 pada tabel 3.3

Qlepas = Qterima

Qap = Qad + Qkalori

map x cair x T1 = mad x cair x T2 + mk x ck x T2

98,5 x 1,0032 x 17 = 105 x 1,0032 x 15 + 145 x ck x 15

1679,8584 = 1580,04 +2175 ck

99,8184 = 2175 ck

ck = 0,0459 kalori/gr oC

Percobaan 2 pada tabel 3.3

Qlepas = Qterima

Qap = Qad + Qkalori

map x cair x T1 = mad x cair x T2 + mk x ck x T2

108 x 1,0032 x 18 = 115 x 1,0032 x 16 + 145 x ck x 16

1950,2208 = 1845,888 +2320 ck

ck = 0,045 kalori/gr oC

Percobaan 3 pada tabel 3.3

Qlepas = Qterima

Qap = Qad + Qkalori

map x cair x T1 = mad x cair x T2 + mk x ck x T2

122,2×1,0032×20 = 129 x 1,0032 x 18 + 145 x ck x 1

2451,8208 = 2329,4304 +2610 ck

ck = 0,046 kalori/gr oC

Kalori rata – rata :

=

= 0,0456 kalori/gr oC

= 190,8 joule/kgK

Kapasitas Kalor dari Kalorimeter:

C = m.c

= 145 x 0,0456

= 6,612 kalori/ oC

Kesetaraan kalor listrik :

Percobaan 1

a.

= 5,869

b.

= 5,869

c.

= 5,869

Percobaan 2

a.

= 4

b.

= 4,3

c.

= 4,26

Kesetaraan rata – rata :

=

= 5

Ketidakpastian:

γ =

=

=

= 0,38

Kesalahan rata – rata

KR =

= 7 %

Ketelitian :

Ket = 100% – 7%

= 93 %

3.9 Pembahasan

Dalam percobaan yang kami lakukan di atas menggunakan alat kalorimeter. Yaitu alat yang digunakan untuk mengukur kalor jenis suatu zat. Pada kalori meter terdapat thermometer yang digunakan untuk mengukur suhu campuran.

Untuk menentukan kapasitas kalor mula-mula mengukur suhu air dingin kemudian menimbangnya. Setelah itu memanaskan air hingga panas. Setelah panas dan telah diukur suhunya dicampur dengan air dingin yang berada dalam kalori meter. Kemudian kita ukur suhu campuran air tersebut. Dalam memasukkan air yang panas tadi harus cepat supaya suhu air panas tidak turun dan jangan sampai tumpah karena dapat mengurangi massa dari air panas tadi.

Untuk mengetahui kalor jenis kalori meter menggunakan rumus :

Qlepas = Qterima

Qap = Qad + Qkalori

map x cair x T1 = mad x cair x T2 + mk x ck x T2

Dengan rumus diatas kita mendapatkan hasil kalor jenis kalorimeter yaitu: 0,0456 kalori/gr oC atau 190,8 joule/kgK. Dengan menemukan hasil kalor jenis calorimeter ini kita dapat menentukan kapasitas kalor dari kalorimeter yaitu sebesar 6,612 kalori/oC.

Selain dapat menentukan kalor jenis dan kapasitas dari calorimeter, kita juga dapat menghitung kalor jenis air serta kapasitas kalor dari air. Kalor jenis air yang didapatkan adalah 1 kalori/gr oC yang setara dengan 4,180 x 103 joule/kgK.

Hasil yang kami peroleh mungkin belum sempurna. Karena ketelitian yang kita dapatkan sebesar 93%. Hal ini dapat disebabkan karena:

a. Kurang teliti dalam menimbang air dan kalorimeter.

b. Kurang teliti dalam mengukur suhu air.

c.Kemungkinan ada energi yang diserap oleh benda lain atau suhu logam waktu dipanaskan banyak yang hilang ke lingkungan.

d. Kesalahan dalam perhitungan

e. Dalam pengukuran suhu akhir campuran air belum tercampur seluruhnya.

3.10 Kesimpulan

1. Kalorimeter adalah alat untuk mengukur kalor jenis suatu zat.

2. Energi tidak dapat dimusnahkan dan tidak dapat diciptakan.

3. Kalor berpindah dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah hingga suhu menjadi termal.

4. Kalor sebanding dengan massa benda, kalor jenis benda dan perubahan suhu.

5. Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikan 1 kg zat sebesar 1K atau 1oC.

6. Perbandingan antara banyaknya kalor yang diberikan terhadap kenaikan suhu benda dinamakan kapasitas kalor.

7. Dalam suatu sistem, jumlah kalor yang diberikan oleh suatu zat yang mempunyai suhu lebih tinggi sama dengan jumlah kalor yang diterima zat lain yang bersuhu lebih rendah.

8. Hukum azas Black dapat dibuktikan dengan percobaan ini.

3.11 Penerapan dalam Bidang Teknik Sipil

1. Untuk mengetahui pengaruh suhu tehadap bentuk dan kekuatan dari bahan yang digunakan dalam kontruksi sebuah bangunan.

2. Dapat digunakan untuk merubah posisi dan bentuk benda, misalnya membuat lengkungan, meluruskan dan sebagainya.

3. Dapat diketahui jenis bahan yang akan digunakan dalam sebuah kontruksi bangunan.

BAB IV

PESAWAT ADWOOD

4.1. MAKSUD DAN TUJUAN

1. Mempelajari penggunaan Hukum Newton.

2.Mempelajari gerak lurus beraturan dan gerak lurus berubah beraturan.

3. Menentukan momen inersia katrol.

4.2. DASAR TEORI

Hukum Newton I menyatakan jika jumlah gaya yang bekerja sama dengan nol atau tidak ada gaya yang bekerja pada benda maka jika benda diam akan tetap diam dan jika benda bergerak akan terus bergerak. Hukum Newton I disebut hukum kelembaman/inersia atau kesetimbangan gaya. Berdasar hukum Newton I dapat dirumuskan atau dengan kata lain benda akan tetap diam atau bergerak GLB.

Sedangkan Hukum Newton II menyebutkan bahwa percepatan yang dihasilkan oleh resultan gaya sebanding dengan besar dan arah resultan gaya tersebut serta berbanding terbalik dengan massa. Dari Hukum Newton II ini dapat diambil beberapa poin penting yaitu:

1. arah dan kecepatan benda sama dengan arah gaya yang bekerja pada benda.

2. besarnya percepatan sebanding dengan gayanya.

3. bila gaya bekerja pada benda, maka benda mengalami percepatan dan tentu ada penyebabnya.

Untuk percepatan yang tetap atau konstan maka berlaku persamaan gerak yang disebut sebagai gerak lurus berubah beraturan. Bila sebuah benda bergerak melingkar melalui porosnya maka persamaan-persamaan geraknya ekivalen dengan persamaan gerak linier. Dalam hal ini ada

besaran fisis “momen inersia” yang memainkan peranan seperti massa pada gerak linier. Momen gaya ekivalen dengan gaya. Momen inersia dari suatu benda terhadap poros tertentu harganya sebanding denganmassa benda dan sebanding dengan pangkat dua jarak terhadap poros.

4.3. ALAT DAN BAHAN

4.3.1 Alat-alat

1. Seperangkat alat percobaan pesawat adwood

2. Stopwatch

3. Neraca/timbangan

4.3.2. Bahan

1. Dua buah beban tambahan

adwood4.4. GAMBAR ALAT DAN BAHAN

Text Box: Penahan 2

Neraca

stop watch

Gambar 4.1. alat-alat

Gambar 4.2. Bahan

4.5. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Timbanglah beban m1, m2 , M1 , M2.

2. Gantungkan beban M1 dan M2 pada tiang atwood dalam posisi setimbang.

3. Letakkan beban m1 pada kedudukan A.

4. Catat jarak A-B dan B-C.

5. Lepaskan pengunci beban M2 sehingga beban M1 meluncur ke bawah.

6. Hitung waktu yang dibutuhkan beban m1 untuk mencapai titik B dan waktu yang dibutuhkan M1 untuk mencapai titik C.

7. Ulangi langkah 3-5 dengan mengubah jarak antara titik A-B dan jarak antara titik B-C.

8. Ganti beban m1 dengan beban m2.

9. Lakukan langkah 4-6 pada beban m2.

4.6. ALUR KERJA

Diagram 4.1 Alur kerja praktikum

4.7. DATA PERCOBAAN

Tabel 4.1. Perbandingan lintasan yang ditempuh dengan waktu yang diperlukan (massa benda 3,7 gram)

Percb.

ke-

Jarak

(A-B)

Waktu yang diperlukan (dt)

Rata-rata

Jarak

(B-C)

Waktu yang diperlukan (dt)

Rata-rata

1

56,5cm

2,8

2,6

2,7

38,5cm

1,3

1,1

1,2

2

40cm

2,1

2

2,05

55 cm

2

2,6

2,3

3

52cm

2

2

2,0

43 cm

1,1

1,3

1,2

4

56cm

2,3

2,7

2,5

39 cm

0,9

0,9

0,9

Tabel 4.2. Perbandingan lintasan yang ditempuh dengan waktu yang diperlukan (massa benda 5 gram)

Percb.

ke-

Jarak

(A-B)

Waktu yang diperlukan (dt)

Rata-rata

Jarak

(B-C)

Waktu yang diperlukan (dt)

Rata-rata

1

56,5cm

1,8

2

1,9

38,5cm

0,9

0,6

0,75

2

40cm

1,l8

1,7

1,75

55cm

1,6

1,4

1,5

3

52cm

1,,9

1,8

1,85

43 cm

0,9

1,1

1,0

4

56cm

1,8

2,1

1,95

39cm

0,8

0,8

0,8

4.8. ANALISIS HASIL PERCOBAAN

Benda menempuh jarak A-B maka benda melakukan GLBB

Karena kecepatan awal adalah nol maka

Sehingga

dan

Benda menempuh jarah B-C maka benda melakukan GLB

Perhitungan

1. GLBB percobaan I dengan massa benda 3,7 gram

Data 1

Data 2

Data 3

Data 4

2. GLB percobaan I dengan massa benda 3,7 gram

Data 1

Data 2

Data 3

Data 4

3. GLBB percobaan I dengan massa benda 5 gram

Data 1

Data 2

Data 3

Data 4

4. GLB percobaan I dengan massa benda 5 gram

Data 1

Data 2

Data 3

Data 4

Tabel 4.3. Perhitungan percepatan dan kecepatan

massa

Percepatan GLBB

Kecepatan GLBB

Kecepatan GLB

3,7gram

15,501

41,853

32,083

19,048

39,048

23,913

26,0

52,0

35,833

17,920

44,80

43,333

2,9 gram

31,302

59,474

51,333

26,144

45,752

36,667

30,409

56,257

43

29,474

57,474

48,75

5.Perhitungan momen inersia katrol

Data awal :

Massa bandul M = 67.5gram =

Jari-jari katrol r =

Rumus yang digunakan

a. massa beban tambahan 3,8 gram =

percepatan

b. massa beban tambahan 3,7 gram = 3,7×10-3kg

percepatan a = 19,048.10-2m/s2

c. massa beban tambahan 3,7 gram =

percepatan

d. massa beban tambahan 3,7 gram =

percepatan

e. massa beban tambahan 5 gram =

percepatan

f. massa beban tambahan 5 gram =

percepatan

g. massa beban tambahan 5 gram =

percepatan

h. massa beban tambahan 5 gram =

percepatan

Tabel 4.4. Perhitungan momen inersia katrol

No.

Massa

Percepatan

Momen Inersia

1

3,7 gr

0,123114

3,935

1,638.10-4

2

3,7 gr

0,119008

2,249

0,048.10-4

3

3,7 gr

0,118343

0,295

2,002.10-4

4

3,7 gr

0,089285

2,709

0,412.10-4

5

5 gr

0,11111

1,035

0,4115.10-4

6

5 gr

0,10341

2,184

0,7376.10-4

7

5 gr

0,09849

1,188

0,2585.10-4

8

5 gr

0,089285

1,379

0,0675.10-4

Momen Inersi rata-rata pada massa 3,7 :

Momen Inersi rata-rata pada massa 5 gr :

Momen inersia

Kesalahan Relatif

Ketelitian

Grafik 4.1. Hubungan Panjang Lintasan Dengan Waktu Pada Gerak GLBB Dengan Massa 3,7 gram

Grafik 4.2. Hubungan Kecepatan Dengan Waktu Pada Gerak GLBB Dengan Massa 3,7 gram

Grafik 4.3. Hubungan Kecepatan Dengan Waktu Pada Gerak GLB Dengan Massa 3,7 gram

Grafik 4.4. Hubungan Panjang Lintasan Dengan Waktu Pada Gerak GLB Dengan Massa 5 gram

Grafik 4.5. Hubungan Kecepatan Dengan Waktu Pada Gerak GLBB Dengan Massa 5 gram

Grafik 4.6. Hubungan Kecepatan Dengan Waktu Pada Gerak GLB Dengan Massa 5 gram

4.9. PEMBAHASAN

Dari percobaan dan analisis data diperoleh data sebagai berikut:

Tabel 4.5. Hasil analisis data

beban

Percepatan benda saat GLBB

Kecepatan benda saat GLBB

Kecepatan benda saat GLB

3,8 gr

0,112437

0,308958

0,35832

2,9 gr

0,100573

0,292257

0,35394

Pada GLBB hukum Newton tidak berlaku secara sempurna karena adanya variabel lain yang tidak diperhitungkan seperti adanya tiupan angin, elastisitas tali penggantung, dan gaya gesek pada katrol. Dari hasil percobaan diatas, dapat kita lihat bahwa percepatan semakin besar dengan adanya pertambahan beban.

4.10. KESIMPULAN

Dari hasil diatas dapat disimpulkan:

  1. Pada pesawat adwood dapat diketahui bahwa pada GLB kecepatan benda konstan, percepatan benda = 0 dan pada GLBB percepatan benda konstan.
  2. Pada GLB dan GLBB hukum II Newton berlaku yaitu, jika massa diperbesar maka kecepatan dan percepatan bertambah besar.
  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi percobaan kurang teliti :

a. Posisi katrol tidak stabil.

b. Beban berputar sehingga posisi berubah.

c. Pencatatan waktu yang kurang tepat dan kurang akurat.

4.11. APLIKASI DALAM BIDANG TEKNIK SIPIL.

Digunakan dalam sistem irigasi. Dengan mengetahui kecepatan air kita dapat menentukan lebar atau dalam saluran irigasi sesuai dengan debit yang kita inginkan. Selain itu GLB dan GLBB berguna dalam sistem transportasi. Dengan menghitung kecepatan dan percepatan kita dapat memperkirakan waktu yang diperlukan untuk menempuh suatu jarak sehingga kita dapat membuat jadwal perkiraan kedatangan dan keberangkatan bus, kereta api dan kendaraan lain. Dengan menghitung percepatan dan kecepatan kita juga dapat menentukan panjang minimum landasan pacu pesawat terbang.

- Untuk pemasangan tiang pancang.

- Pengukuran kedalaman sumur atau konstruksi lain.

- Pengukuran kedalaman laut atau lubang boor.

- Kerja pada lift.

BAB V

MODULUS YOUNG

5.1. MAKSUD DAN TUJUAN

Menentukan Modulus Young dari beberapa logam.

5.2. DASAR TEORI

Suatu balok dengan panjang L dan tebal a serta lebar b diberi gaya di tengah balok maka dalam kondisi ini deformasi atau perpanjangan benda ke arah x. Tentu saja perpanjangan benda sangat kecil karena batang yang digunakan adalah logam keras. Dalam hal ini batang mengalami tegangan sekaligus regangan sehingga kita dapat menghitung besarnya Modulus Young dari benda dengan rumus dengan:

· Jarak antara skala dengan kaca = x

· Ketebalan batang tes (rata-rata) = a

· Lebar batang tes (rata-rata) = b

· Jarak antara pendukung batang tes = L

· Jarak tegak lurus antara kaki-kaki tripod kaca = z

· Kemelencengan per massa =e

· Massa =M

· Gravitasi =g


Gambar 5.1. Susunan alat percobaan Modulus Young

Masalah utama dalam percobaan ini adalah perubahan skala yang sangat kecil. Untuk mengatasinya digunakan alat yang memakai prinsip pantulan dari cermin, dimana perubahan posisi cermin yang sangat kecil ( akibat perpanjangan batang) menyebabkan skala yang dipantulkannya juga berubah. Untuk ini digunakan teropong sebagai alat pembesar penglihatan.

5.3. ALAT DAN BAHAN

5.3.1 Alat

1.Penyangga batang uji,

2.Mistar,

3.Kaca cermin,

4.Teropong,

5.Mistar berskala ,

6.Beban 5 buah masing-masing 200gram,

7.Batang pembantu.

5.3.2 Bahan

1. tembaga,

2. kuningan,

3. besi.

5.4. GAMBAR ALAT DAN BAHAN

SATU SET ALAT MODULUS YOUNG

PENGGARIS

Batang tembaga Batang kuningan Batang besi

GAMBAR BAHAN

Gambar 5.2. Alat dan Bahan

5.5. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Mencatat panjang, lebar dan ketebalan batang uji.

2. Mengukur jarak antara penyangga batang uji dan kaca tripod dengan teropong.

3. Menempatkan batang uji (tembaga) di atas penyangga dan meletakkan batang yang lain di belakangnya sebagai batang pembantu.

4. Mengatur teropong sehingga skala yang ditunjukkan oleh mistar terlihat jelas.

5. Meneropong ke arah cermin sehingga skala terlihat jelas, keadaan tanpa beban ini dicatat sebagai keadaan awal.

6. Menggantungkan beban 200 gram di tengah-tengah batang uji.

7. Mengukur perubahan skala yang ditimbulkan oleh gaya dari beban melalui teropong.

8. Mencatat perubahan skala yang terjadi.

9. Menambah beban yang digantungkan berturut-turut hingga mencapai 1 kg.

10. Setelah penambahan mencapai 1 kg, mengurangi beban yang digantungkan satu-persatu hingga tidak ada beban yang tergantung.

11. Mencatat perubahan skala yang terjadi saat pengurangan beban.

12. Melakukan prosedur percobaan yang sama untuk batang uji kuningan dan besi.

5.6. ALUR KERJA

Gambar 5.1. Diagram alur kerja

5.7. DATA PERCOBAAN

5.7.1 Tembaga

Tabel 5.1. Pembacaan Skala Batang Uji Tembaga

Beban

(gram)

Pembaca Skala

(Beban Bertambah)

Pembaca Skala

(Beban Berkurang)

Rata-rata

Pembacaan Skala

0

y0

180

y0

178

O0

179

200

y1

171

y1

169

O1

170

400

y2

160

y2

160

O2

160

600

y3

151

y3

151

O3

151

800

y4

143

y4

143

O4

143

1000

y5

135

y5

135

O5

135

5.7.2 Kuningan

Tabel 5.2. Pembacaan Skala Batang Uji Kuningan

Beban

(gram)

Pembaca Skala

(Beban Bertambah)

Pembaca Skala

(Beban Berkurang)

Rata-rata

Pembacaan Skala

0

y0

185

y0

185

O0

185

200

y1

173

y1

173

O1

173

400

y2

161

y2

161

O2

161

600

y3

149

y3

149

O3

149

800

y4

137

y4

137

O4

137

1000

y5

125

y5

125

O5

125

5.7.3 Besi

Tabel 5.3. Pembacaan Skala Batang Uji Besi

Beban

(gram)

Pembaca Skala

(Beban Bertambah)

Pembaca Skala

(Beban Berkurang)

Rata-rata

Pembacaan Skala

0

y0

195

y0

197

O0

196

200

y1

185

y1

185

O1

185

400

y2

178

y2

179

O2

178,5

600

y3

174

y3

173

O3

173,5

800

y4

166

y4

166

O4

166

1000

y5

159

y5

159

O5

159

5.8. ANALISIS DATA

I. Tembaga

· Jarak antara skala dan kaca : x = 100,0 cm

· Ketebalan batang tes (rata-rata) : a = 0,5003 cm

· Lebar batang tes (rata-rata) : b = 1,5459 cm

· Jarak antara pendukung batang tes : L = 40,0 cm

· Jarak tegak lurus antara kaki-kaki tripod

kaca (rata-rata) : Z =3,092 cm

Pada beban 600 gram

a.Kemelencengan per 600 gram beban yang berbeda :

O3 – O0 = 28 mm

O4 – O1 = 27 mm

O5 – O2 = 25 mm

b.Rata-rata kemelencengan per 600 gram beban yang berbeda :

c.Salah penempatan titik tengah per 600 gram

d.Modulus young :

Pada beban 400 gram

a.Kemelencengan per 400 gram beban yang berbeda :

O2 – O0 = 19mm

O3 – O1 = 19 mm

O4 – O2 = 17 mm

O5 – O3 = 16 mm

b.Rata-rata kemelencengan per 400 gram beban yang berbeda :

c.Salah penempatan titik tengah per 400 gram W :

d.Modulus young

Pada beban 200 gram

a.Kemelencengan skala per 200 gram beban yang berbeda : O1 – O0 = 9 mm

O2 – O1 = 10 mm

O3 – O2 = 9 mm

O4 – O3 = 8 mm

O5 – O4 = 8 mm

b.Rata-rata kemelencengan per 200 gram beban yang berbeda :

c.Salah penempatan titik tengah per 200 gram W :

d.Modulus young

Kesalahan Relatif

Ketelitian

II. Besi

· Ketebalan batang tes (rata-rata) : a = 0,5003 cm

· Jarak antara skala dan kaca : x = 100,0 cm

· Lebar batang tes (rata-rata) : b = 1,5459 cm

· Jarak antara pendukung batang tes : L = 40,0 cm

· Jarak tegak lurus antara kaki-kaki tripod

kaca (rata-rata) : Z=3,092 cm

Pada beban 600 gram

a. Kemelencengan per- 600 beban yang berbeda

O3 – O0 = 22,5 mm

O4 – O1 = 19 mm

O5 – O2 = 19,5 mm

b. Rata-rata kemelencengan per600 gram beban yang berbeda :

c. Salah penempatan titik tengah per600 gram

d. Modulus young :

Pada beban 400 gram

a. Kemelencengan per400 gram beban yang berbeda :

O2 – O0 = 14,5 mm

O3 – O1 = 12,5 mm

O4 – O2 = 11,5 mm

O5 – O3 = 17,5 mm

b. Rata-rata kemelencengan per400 gram beban yang berbeda :

c. Salah penempatan titik tengah per400 gram W :

d. Modulus young

Pada beban 200 gram

a. Kemelencengan skala per200 gram beban yang berbeda : O1 – O0 = 11 mm

O2 – O1 = 6,5 mm

O3 – O2 = 5 mm

O4 – O3 = 7,5 mm

O5 – O4 = 7 mm

b. Rata-rata kemelencengan per200 gram beban yang berbeda :

c. Salah penempatan titik tengah per200 gram W :

d. Modulus young

Kesalahan Relatif

Ketelitian

III. Kuningan

· Ketebalan batang tes (rata-rata) : a = 0,5003 cm

· Jarak antara skala dan kaca : x = 100,0 cm

· Lebar batang tes (rata-rata) : b = 1,5459 cm

· Jarak antara pendukung batang tes : L = 40,0 cm

· Jarak tegak lurus antara kaki-kaki

tripod kaca (rata-rata) : Z =3,092 cm

Pada beban 600 gram

a. Kemelencengan per600 gram beban yang berbeda

O3 – O0= 36 mm

O4 – O1 = 36 mm

O5 – O2 = 36 mm

b. Rata-rata kemelencengan per600 gram beban yang berbeda :

c. Salah penempatan titik tengah per600 gram

d. Modulus young

Pada beban 400 gram

a. Kemelencengan per400 gram beban yang berbeda :

O2 – O0 = 24 mm

O3 – O1 = 24 mm

O4 – O2 = 24 mm

O5 – O3 = 24 mm

b. Rata-rata kemelencengan per400 gram beban yang berbeda :

c. Salah penempatan titik tengah per400 gram W :

d. Modulus young

Pada beban 200 gram

a. Kemelencengan skala per200 gram beban yang berbeda

O1 – O0 = 12 mm

O2 – O1 = 12 mm

O3 – O2 = 12 mm

O4 – O3 = 12 mm

O5 – O4 = 12 mm

b. Rata-rata kemelencengan per200 gram beban yang berbeda :

c. Salah penempatan titik tengah per200 gram W :

d. Modulus young

`

Kesalahan Relatif

Ketelitian

Grafik 5.1 Pergeseran skala dan beban pada uji tembaga

Grafik 5.2 Pergeseran skala dan beban pada uji besi

Grafik 5.3 Pergeseran skala dan beban pada uji kuningan

5.9. PEMBAHASAN

Hasil perhitungan Modulus Young

1. Modulus Young batang tembaga

2. Modulus Young batang Kuningan

3.Modulus Young Batang Besi

Faktor yang penyebab kesalahan:

1. Faktor dari peralatan yaitu ketepatan fokus teropong.

2. Kesalahan paralaks atau penglihatan yaitu kekurangtelitian dalam melihat skala.

3. Kesalahan dalam pengukuran data awal.

4. Faktor keadaan ruang seperti getaran.

5.10. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dan hasil yang telah dicapai maka diperolah kesimpulan:

1. Semakin besar simpangan skala maka besarnya Modulus Young semakin kecil atau dengan kata lain besarnya simpangan berbanding terbalik dengan harga E.

2. Harga Modulus Young berbanding lurus dengan beban.

Aplikasi dalam bidang Teknik Sipil:

a. Untuk mengetahui kualitas baja dan kayu.

b. Untuk mengetahui kekuatan tegangan baja dalam menyangga beban.

c. Untuk mengetahui berapa besar beban yang disangga oleh kayu pada kuda-kuda bangunan.

BAB VI

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah kami lakukan kami menyimpulkan bahwa :

  1. Pembacaan alat ulur yang membutuhkan kecermatan dan ketelitian yang tinggi dari pengamatnya
  2. Kesabaran dan ketepatan sangat dibutuhkan pada setiap percobaan
  3. Konsep fisika dasar banyak diterapkan dalam dunia nyata seperti :

a) Konsep modulus young dan modulus elastisitas digunakan

b) untuk mengetahui kekuatan suatu bahan terhadap gaya

c) Pesawat adwood untuk mengukur kedalaman air laut

d) Kalorimeter digunakan untuk mengetahui panas jenis bahan

B. SARAN

Untuk mendapatkan hasil yang teliti atau benar dalam percobaan berikutnya , maka diharapkan kepada :

  1. Asisten dosen fisika dasar I

a) Menambah jumlah asisten agar setiaap alat peraga memiliki satu orang asisten

b) Lebih terbuka untuk komunikasi

  1. Praktikan

a) Memahami cara penggunaan alat-alat sebelum praltikum dilaksanakan

b) Memahami dasar-dasar teori praktikum

c) Teliti pada saat melakukan percobaan

written by elfajr


2 Responses to “cara menggunakan alat ukur fisdas”

  1. 1. UNS BlogFest Says:

    Mengundang secara spesial Anda admin Blog ini.
    Panitia UNS BlogFest 1.0 mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas partisi anda pada “Contest research on the blog” untuk itu panitia UNS BlogFest 1.0 memberikan special invitation untuk menghadiri Blog Conference sebuah rangkaian penutup dari UNS BlogFest 1.0 di Auditorium UNS tanggal 11-12 Mei 2010 jam 08.00 WIB secara gratis & spesial untuk Anda.

    Acara ini akan menghadirkan unsblogfest.blog.uns.ac.id/blogger-conference/

    Setelah menerima Online Invitation ini, Anda di haruskan melakukan konfirmasi dengan mengisikan nama, alamat blog dan email pada comment di halaman unsblogfest.blog.uns.ac.id/konfirmasi-peserta-mahasiswaalumni-2/ sebelum tgl 9 Mei 2010
    Setelah melakukan konfirmasi, undangan secara fisik dapat di ambil tgl 10 Mei 2010 di Blog Center International Office UPT. Puskom UNS Lt. 2 pada jam 10.00 s.d 15.30 WIB

  2. 2. JACK Says:


    GENERIC PHARMACY : -==== Respiratory Cure ====-

    Order Good Generic Drugs Today!…

Leave a Reply

*

sapa aku


ShoutMix chat widget

free counters